
ANAK DAN ORANG TUA
Oleh Zuraidah
Penyuluh Agama Ahli Pertama pada Kantor
Kementerian Agama Kab. Kubu Raya
Pendahuluan
Orang tua merupakan awal dari kehadiran atau kehidupan seorang anak kedunia ini. Orang tua berperan penting untuk menjadikan anaknya sukses di masa depan. Sukses di dalam mendidik anak, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi sukses dunia dan akhiratnya. Ada usaha yang harus diperjuangkan, karena dengan kemajuan zaman, maka meningkat juga tantangannya. Oleh karena itu jangan sampai orang tua menjadi terperdaya.
Zaman sekarang era tahun dua ribu dua puluhan ini, banyak orang tua terperdaya akan yang namanya handphone. Semua itu berdampak dari musim virus corona , banyak orang tua yang memberikan fasilitas Handphone kepada anak. Handphone tersebut bertujuan untuk membantu kelancaran proses belajar mengajar secara daring. Namun kenyataannya hand phone tersebut tidak semata-mata untuk fasilitas belajar-mengajar saja, banyak aplikasi serta tontonan yang dapat dikonsumsi oleh anak-anak.
Anak-anak dengan kepolosannya memiliki kemampuan lebih banyak pada usia yang lebih muda, memiliki kesempurnaan yang luas dan terbuka lebar sampai usia 10 tahun (Barnadib, 1978:7; Harry, 1996:4 dikutip oleh Harun Rasyid, 2000:57). Anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, yang sangat perlu dan dipoles untuk menjaga kemurniaannya. Kehidupan dunia bukanlah akhir dari cerita kehidupan, melainkan masih ada kehidupan lain. Allah berfirman:
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)
Problematika Anak-Anak Masa Kini
Berbagai tuntutan dan gaya hidup masa kini, banyak menuntut figure seorang wanita (sosok Ibu) ikut andil dalam berbagai pekerjaan dan karya. Sedangkan seorang laki-laki (sosok Ayah) sudah menjadi kodrat pada umumnya yang dominan harus berkerja dalam menafkahi keluarga. Berawal dari aktifnya kerja diluar atau sama-sama memiliki karya atau profesi pekerjaan yang menuntut banyak beraktifitas keluar rumah, maka komunikasi yang terjalin antara anak dan orang tua akan berkurang. Handphone merupakan alat atau sarana komunikasi masa kini yang dilakukan orang tua kepada anaknya. Sangat disayangkan sekali jika intensitas pertemuan akan berkurang, maka dapat menimbulkan kurangnya figure teladan/contoh nyata dalam kehidupan anak.
Allah berfirman tentang kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya yaitu:
Artinya: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.” (QS. An-Nisa: 9)
Dalam kehidupan keluarga disamping keteladanan, kebersamaan dan terpeliharanya keutuhan keluarga merupakan sesuatu yang sangat penting. Rasuluallah SAW mengajarkan kepada kita, bahwa seorang muslim dengan muslim yang lain adalah laksana satu bangunan yang saling menguatkan setiap bagiannya. Demikian pula dalam kehidupan orang tua dan anak-anak, merupakan satu batang tubuh yang jika ada satu dari bagian tubuh itu sakit maka seluruh tubuh akan merasakannya. Oleh karena itu antara orang tua dan anak-anak saling menjaga kebersamaan dengan melakukan komunikasi yang baik. Hubungan komunikasi yang baik akan mengatasi setiap masalah.
Hubungan komunikasi yang kurang dan disertai dengan komunikasi yang tidak baik kepada anak-anak, maka hal tersebut menjadi problematika anak-anak untuk mendapatkan kasih sayang yang utuh dari orang tuanya. Handphone merupakan pelarian anak-anak dalam membahagiakan dirinya, bahkan sarana di dalam menemukan jati dirinya. Permasalahan yang dikhawatirkan anak-anak tidak dapat memilih dan memilah antara baik dan buruknya, terhadap apa yang disampaikan oleh media massa dalam hal ini yaitu melalui sarana handphone.
Denis Mc Quail (1991:3) mengemukakan: “media massa seringkali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma. Oleh karena itu peran orang tua tidak boleh berkurang dalam memantau anak-anaknya. Orang tua hendaknya dapat mengarahkan dan menjadikan media handhphone pada anak-anak akan hal-hal yang postif. Orang tua juga diharapkan mampu menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk, dengan jalinan komunikasi yang baik. Anak-anak harus disayangi dan dijaga jangan sampai masuk kedalam suasana lebih nyaman bersama handphone, dari pada bersosialisasi langsung ke orang-orang sekitar bahkan ke orang tua. Teori menjelaskan bahwa intensitas dan frekuensi kontaknya terhadap media mempunyai hubungan (korelasi) dengan intensitas dan frekuensi kontak social (Redi Panuju, 1997:127).
Limpahan Anugerah Bagi Orang Tua
Selama ini kita sering mendengar istilah bakti anak kepada orang tua. Memiliki anak yang berbakti merupakan hadiah yang terindah bagi orang tua. Banyak anugerah yang Allah limpahkan kepada orang tua, apabila orang tua telah berhasil mendidik anak-anaknya ke ajaran nilai-nilai agama yang benar. Sebagaimana Nabi Ibrahim as mewasiatkan kepada anak-anaknya untuk istiqomah sebagai seorang muslim sampai akhir hayat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-qur’an:
Artinya: “ Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. “Wahai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Al-Baqarah:132)
Menurut Ustadz Labib Mz, (2007:63-64) “Selama seseorang masih hidup, ia akan memperoleh pahala dari amalnya sendiri dan akan menjadi bekal baginya setelah mati. Tetapi ketika ia telah mati, amal tersebut akan terputus dan sebab pahala baginya juga akan terhenti. Namun ada tiga hal yang amalnya akan menyebabkan terus mengalir bahkan setelah ia mati. Adapun tiga hal tersebut adalah sebagai berikut: 1) Shadaqah jariyah, 2) Ilmu yang bisa dimanfaatkan, 3) Anak yang sholeh yang mendo’akan kedua orang tuanya.”
Imbalan yang luar biasa dari anak-anak yang sholeh, bukan saja membahagiakan kedua orang tua saat hidup di dunia bahkan sampai akhirat kelak. Sering kita dengar anak bagaikan mutiara, berbeda dengan awal lirik lagu daerah Jambi, yang berjudul Dodoi Si Dodoi : “ buah hatiku junjungan jiwa.” Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa anak adalah buah hati kesayangan dan belahan jiwa dari orang tua. Kesedihan yang tak terhingga apabila anak-anak yang lebih dahulu menghadap Allah SWT dari pada orang tua.
Musibah kehilangan anak, juga Allah limpahkan anugerah di dalamnya. Drs, Kasmuri Selamat MA, (2005:78-90) mengemukakan beberapa musibah dalam kehilangan anak yang akan Allah anugerahkan limpahan karunia kepada orang tua yaitu: Pertama, adanya pahala bagi oarng yang keguguran anak. Dari Ali bin Abi Thalib ra, sesungguhnya Rasuluallah SAW bersabda yang maksudnya: “Sesungguhnya bayi yang gugur itu akan menuntut Tuhan jika orang tuanya dimasukkan ke dalam neraka, maka dikatakan kepadanya: Wahai bayi yang gugur! Masuklah orang tuamu ke dalam surga. (HR.Ibn Majah). Kedua, adanya pahala bagi orang yang kematian seorang anak, dua orang anak dan tiga orang anak. Rasuluallah SAW pernah berkata: Aku melihat seorang dari umatku yang ringan timbangan amal kebaikannya, lalu datanglah anaknya yang mati lalu membuat timbangannya menjadi berat. Untuk menguatkan lagi pendapat ini Rasuluallah SAW pernah bersabda bahwa semua bayi yang dilahirkan itu dalam keadaan fitrah (suci). Di dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman yang artinya: “ Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (QS. Ar-Rum: 30). Anak-anak yang meninggal dunia digariskan fitrah tauhid, mereka termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, yang akan memasuki surga tanpa melakukan amal kebaikan, karena mereka masuk ke dalam surga dengan rahmat Allah. Mereka juga dianugerahi kesempatan untuk menolong kedua orang tua mereka.
Anak-anak yang dapat menganugerahkan membantu orang tuanya untuk masuk ke surga adalah anak-anak yang masih suci dan belum baligh. Besarnya keagungan Allah dengan memberikan karunia anak yang sudah meninggal, bagi kehidupan orang tua yang kekal nanti diakhirat. Orang tua yang baik seharusnya akan menghasilkan keturunan yang baik. Anak bukan untuk dilahirkan saja, tapi dirawat, dijaga dan didiklah ia sejak dini. Sehingga anak yang telah kita didik sejak dini, dapat menganugerahkan kebahagian bagi orang tuanya.
Penutup
Hubungan orang tua dan anak tidak dapat dipisahkan. Anak merupakan kebanggaan dan bekal dimasa depan, bahkan bekal dikehidupan akhirat yang kekal. Seiring dengan kemajuan zaman yang terus berkembang dengan tuntutan kehidupan yang semakin tinggi, tidak jarang orang tua mengabaikan anak-anak mereka. Selain itu ketidakseimbangan dalam hal pendidikan nampak jelas, karena masih banyak orang tua yang hanya mementingkan pendidikan akademisnya dari pada pendidikan agamanya.
Keberhasilan dalam menyeimbangkan pendidikan dunia dan pendidikan akhirat pada anak-anak, akan menjadikan anugerah yang luar biasa bagi kedua orang tua. Oleh karenanya mulailah sejak dini dan mulai pada diri kita sebagai orang tua, untuk menerapkan keseimbangan dalam mendidik anak. Semoga kita dapat melahirkan anak-anak yang shaleh dan shalehah, serta anak-anak yang dapat menyelamatkan orang tua dunia dan akhirat, juga berguna bagi agama dan bangsa. Amien. Wallahu’alam Bishawab.
Daftar Pustaka:
- Departemen Agama RI. 2009. Al-Qur’an dan Terjemahannya.
- Denis Mc. Quail. 1991. Teori Komunikasi Masa. Edisi kedua. Jakarta: Erlangga
- Kasmuri Selamat, MA. 2005. Rahmat di Balik Cobaan. Jakarta: Kalam Mulia.
- Harun Rasyid. 2000. Metode Penelitian Kualitatif Bidang Ilmu Sosial dan Agama. Pontianak: STAIN Pontianak
- Redi Panuju. 1997. Sistem Komunikasi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
- Labib Mz. 2007. Etika Mendidik Anak Menjadi Sholeh. Surabaya: Putra Jaya
